Tuesday, June 5, 2018

Kiat Menulis Skenario Film Ala Jujur Prananto

Film yang disukai banyak orang adalah film yang bikin “baper” (bawa perasaan). Film yang bikin baper punya potensi untuk meninggalkan kesan mendalam di benak dan hati penontonnya.

Kiat Menulis Skenario Film Ala Jujur Prananto

Akan tetapi bagaimana membuat film yang bisa memiliki keterkaitan erat dengan penontonnya? Ketika ditemui di acara talkshow Mobiliari Film Festival, Jujur Prananto, penulis skenario film Ada Apa dengan Cinta? (2002) dan Petualangan Sherina (2000) membagikan 3 kiat-kiat kepada kamu yang ingin belajar membuat skenario film yang bikin “baper”.

1. Memperkenalkan Tokoh dengan Baik


Menurut Jujur Prananto, film yang baik adalah film yang membuat penonton “baper” atau yang memiliki keterkaitan emosional dengan penontonnya. Cerita yang “baper” itu lahir dari karakter tokohnya. Karena itu, penting untuk memperkenalkan tokoh sebaik-baiknya. “Ketika tokoh kita sudah dikenal, maka penonton akan merasa bahwa tokoh itu adalah teman mereka.” Cara memperkenalkannya adalah dengan menjelaskan tentang dirinya, dan apakah ia berpotensi untuk menarik simpati penonton atau tidak.

2. Tokoh Harus Simpatik


Salah satu cara membuat penonton merasa terlibat secara emosional adalah dengan membuat tokoh yang simpatik. “Jika tokoh kita bisa menarik simpati, maka ketika ia sedih, penonton akan ikut sedih. Ketika tokoh itu gembira, penonton bisa ikut senang. Tokoh yang simpatik akan mudah membuat penonton jatuh cinta. Jika penonton sudah jatuh cinta dengan tokohnya, mereka akan mudah terbawa perasaan juga dengan ceritanya,” ungkap Jujur. Menurutnya jika tokoh tidak bisa mendapat simpati, maka akan sulit penonton merasa terlibat secara emosional dengan filmnya.

3. Menceritakan Kehidupan Seseorang yang Mengandung Nilai Dramatik


Nilai dramatik ini bisa diterapkan dalam film bergenre apa pun, tidak hanya drama. Berceritalah tentang kehidupan seseorang, bukan tentang banyak orang. “Hidup tokoh kita itu harus dramatis. Misalnya dia punya masalah, atau mengalami peristiwa yang membuat hidupnya berubah. Ceritakan juga perjuangan dia mengatasi masalahnya dan lain sebagainya. Kalau kita bercerita tentang orang yang baik, hidupnya baik, tidak punya masalah, ya itu bagus, tapi tidak filmis, dan tentunya tidak dramatik.”

Silakan tambahkan komentar Anda
EmoticonEmoticon