Inilah Jadwal Fenomena Langit Juli Tahun Ini - Info Namina

    Social Items

Juli tahun ini merupakan bulan yang spesial. Selain karena Indonesia akan kebagian mengamati gerhana Bulan total, di Juli ini juga ada banyak peristiwa langit lain yang siap untuk diamati seluruh pengamat langit.

Inilah Jadwal Fenomena Langit Juli Tahun Ini

Pembahasan utama kali ini, apa saja kira-kira peristiwa langit yang akan terjadi di Juli ini? Simak jadwalnya di bawah ini ya.

1 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Mars


Konjungsi Bulan dengan Planet Mars

Pada Minggu, 1 Juli 2018, Bulan akan berada di titik konjungsi dengan Mars. Peristiwa langit ini akan membuat Bulan dan Mars tampak berdampingan dalam pandangan dari Bumi, dengan Mars yang berada sejauh 4°46' di utara Bulan.

Dari Indonesia, pasangan kosmis ini bisa diamati mulai pukul 20:40 waktu setempat daerahmu, ketika keduanya sudah cukup tinggi di atas cakrawala timur. Mereka kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 02:00 dini hari, yakni setinggi 73° di atas cakrawala selatan. Karena rotasi Bumi, mereka berdua akan terbenam pada pukul 05:45 waktu setempat daerahmu.

Kamu butuh teleskop untuk bisa melihat Mars lebih jelas. Sebab dalam pandangan mata, Mars hanya akan muncul bagai bintang merah terang dengan magnitudo -2,2 di dekat Bulan yang bersinar dalam magnitudo -12,4. Keduanya bertengger di depan rasi bintang Kaprikornus.

6 Juli 2018 : Bumi di Titik Aphelion


Bumi di Titik Aphelion

Apa itu aphelion? Dalam astronomi, aphelion adalah istilah untuk menyebut jarak terjauh yang dicapai Bumi dalam orbit elipsnya mengelilingi Matahari. Aphelion akan dicapai Bumi pada tanggal 6 Juli 2018 pukul 23:48 WIB, di mana planet kita akan berada pada jarak sejauh 1,02 AU (1 AU = 150 juta kilometer).

Jarak Bumi dari Matahari bervariasi sekitar 3% sepanjang tahun karena orbitnya yang elips ini. Namun dalam praktiknya, variasi ini tidak berdampak signifikan. Secara teknis, aphelion membuat Matahari muncul lebih kecil di langit, Bumi juga akan menerima radiasi paling sedikit darinya. Namun, perbedaan 3% jarak Bumi dari Matahari tidak akan membuat perbedaan di hari aphelion dengan hari lainnya.

Perubahan tahunan dalam cuaca kita, misalnya antara musim panas dan musim dingin, disebabkan sepenuhnya oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan oleh perubahan jaraknya dari Matahari.

8 Juli 2018 : Hujan Meteor Kaprikornid


Hujan Meteor Kaprikornid

Termasuk dalam hujan meteor minor, yakni hujan meteor dengan intensitas kecil, Kaprikornid akan mencapai puncaknya pada 8 Juli 2018. Sesuai namanya, hujan meteor ini akan bertitik radian di rasi bintang Kaprikornus.

Di langit Indonesia, titik radian tersebut akan berada pada ketinggian 70° di atas ufuk tenggara pada tengah malam. Itulah saat terbaik untuk mengamati hujan meteor ini. Semakin tinggi posisi titik radiannya, semakin banyak meteor yang berpotensi diamati.

Akan ada sekitar 5 meteor per jam pada puncaknya. Kamu tidak butuh teleskop untuk mengamatinya, hanya perlu pandangan langit yang luas, lokasi minim polusi cahaya, dan cuaca cerah. Pakai juga jaket dan seduh minuman hangat untuk mengamati di tengah dinginnya malam.

13 Juli 2018 : Gerhana Matahari Parsial


Gerhana Matahari Parsial

Pada pagi hari tanggal 13 Juli 2018, sebagian wajah Matahari akan digerhanai oleh Bulan dalam peristiwa gerhana Matahari parsial. Sayangnya, Indonesia tidak kebagian.

Hanya Antartika (bisa melihat 23% wajah Matahari tertutup Bulan), sebagian kecil wilayah selatan Australia (6%) dan Selandia Baru (5%) yang berkesempatan melihat peristiwa ini. Lokasi pertama yang bisa melihat gerhana ini akan dimulai pukul 08:48 WIB, puncaknya pukul 10:10 WIB, dan lokasi terakhir yang bisa melihat gerhana ini akan berakhir pukul 11:13 WIB.

16 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Venus


Konjungsi Bulan dengan Planet Venus

Setelah menghalangi Matahari dalam peristiwa gerhana Matahari parsial, tiga hari setelahnya Bulan akan bertemu dengan Venus dalam peristiwa konjungsi. Bulan yang baru berusia tiga hari itu akan berada sejauh 1°37' di arah utara Venus.

Pasangan kosmis ini bisa diamati di langit barat segera setelah Matahari terbenam hingga pengaturan 2 jam 58 menit setelahnya. Gunakan teleskop untuk melihat Venus yang bersinar dengan magnitudo --4,1 dan Bulan dengan magnitudo -10,5. Keduanya berada di depan rasi bintang Leo.

21 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter


Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter

Puas berkencan dengan Venus, Bulan akan menemani Jupiter di langit Bumi. Pada konjungsi ini, Bulan sudah memasuki fase separuh awal, ia akan berada sejauh 4°26' dari planet Jupiter.

Dari Indonesia, pasangan ini akan terlihat di langit malam, dengan pengamatan bisa dilakukan mulai pukul 18:30 waktu setempat daerahmu, saat kedua benda langit ini berada di langit atas kepala. Mereka akan terus bisa diamati sampai sekitar tengah malam, saat keduanya terbenam di ufuk barat.

Bulan akan bersinar dengan magnitudo -12,1 dan Jupiter dengan magnitudo -2,2. Gunakan teleskop untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas lengkap dengan garis-garis atmosfernya dan bulan-bulan terbesarnya, Io, Europa, Kalisto, dan Ganimede.

25 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus


Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus

Pertemuan Bulan dengan planet-planet tata surya masih berlanjut. Dan di tanggal ini giliran Saturnus, sang planet bercincin, yang akan muncul seolah berdekatan dengan Bulan, padahal jauh seperti kamu dan dia~ Hehehe~

Peristiwa konjungsi ini akan membuat Bulan dan Saturnus berada sejauh 2° satu sama lain. Kita bisa melihat konjungsi ini segera setelah Matahari terbenam, mereka akan berada di langit timur. Pasangan ini bisa terus diamati sampai sekitar pukul 03:35 waktu setempat daerahmu, saat keduanya terbenam di barat.

Lagi-lagi, gunakan teleskop untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas lengkap dengan cincinnya. Sebab dalam padangan mata, Saturnus yang bersinar dengan magnitudo 0,0 ini hanya akan tampak seperti bintang kuning terang di dekat Bulan yang bersinar dengan magnitudo -12,4.

27 Juli 2018 : Oposisi Mars


Oposisi Mars

Inilah saat terbaik untuk mengamati planet Mars!

Dalam astronomi, oposisi adalah peristiwa ketika planet luar berada di jarak terdekat dengan Bumi karena konfigurasinya Matahari-Bumi-planet berada dalam satu garis lurus di bidang tata surya. Dengan kata lain, Mars akan mencapai jarak terdekat dengan Bumi di tahun ini pada tanggal 27 Juli 2018.

Pada oposisi ini, Mars akan terletak pada jarak 0,39 AU dari Bumi, sehingga ia akan muncul selebar 24,3 detik busur di langit Bumi dan bersinar pada magnitudo -2,8. Ini merupakan jarak terdekat antara Bumi-Mars dalam 15 tahun terakhir, lho.

Menariknya, oposisi Mars akan ditemani oleh Bulan, sehingga kita bisa melihatnya seperti ini dari permukaan Bumi:

Namun, jangan berharap Mars akan muncul besar dalam pandangan mata. Kamu masih perlu teleskop untuk bisa melihatnya lebih jelas. Dan karena berada di titik oposisi, Mars akan muncul sepanjang malam dari Matahari terbenam hingga Matahari terbit kembali.

28 Juli 2018 : Gerhana Bulan Total


Gerhana Bulan Total

Dari seluruh peristiwa langit yang akan terjadi di bulan Juli 2018, mungkin inilah yang paling ditunggu-tunggu sejak lama: gerhana Bulan total!

Indonesia cukup beruntung karena berada di sisi malam Bumi saat gerhana ini terjadi, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengamatinya.

Gerhana Bulan total ini bisa diamati mulai pukul 00:15 WIB, ketika Bulan memasuki bayangan penumbra Bumi. Gerhana total akan dimulai pukul 02:30 WIB, ketika Bulan sepenuhnya sudah memasuki bayangan umbra Bumi. Selanjutnya, puncak gerhana akan terjadi pukul 03:22 WIB dan akan berakhir pukul 04:13 WIB.

Peristiwa ini aman untuk diamati dengan mata telanjang, kamu tidak perlu filter gerhana untuk mengamatinya. Bila punya teleskop, gunakanlah, pengamatan melalui teleskop akan jauh lebih menarik karena bisa melihat detail Bulan saat detik-detik gerhana terjadi.

29 Juli 2018 : Hujan Meteor Delta Akuarid


Hujan Meteor Delta Akuarid

Delta Akuarid akan menutup rangkaian peristiwa langit untuk Juli 2018 ini. Ia merupakan hujan meteor yang memiliki titik radian di rasi bintang Akuarius, dekat bintang Delta Akuarii. Terjadi mulai 15 Juli sampai 20 Agustus, hujan meteor ini memuncak tiap tanggal 29 Juli.

Pada puncaknya, kita bisa mengamati 20 meteor per jam, yang mana meteor-meteor ini berasal dari debris yang ditinggalkan oleh komet 96P/Machholz. Pengamatan bisa dilakukan mulai tengah malam sampai menjelang Matahari terbit. Wajib diamati dengan mata telanjang dan pastikan cuaca cerah.

Nah, itulah Jadwal Fenomena Langit Juli 2018. Keep looking up and clear skies!

Inilah Jadwal Fenomena Langit Juli Tahun Ini

Juli tahun ini merupakan bulan yang spesial. Selain karena Indonesia akan kebagian mengamati gerhana Bulan total, di Juli ini juga ada banyak peristiwa langit lain yang siap untuk diamati seluruh pengamat langit.

Inilah Jadwal Fenomena Langit Juli Tahun Ini

Pembahasan utama kali ini, apa saja kira-kira peristiwa langit yang akan terjadi di Juli ini? Simak jadwalnya di bawah ini ya.

1 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Mars


Konjungsi Bulan dengan Planet Mars

Pada Minggu, 1 Juli 2018, Bulan akan berada di titik konjungsi dengan Mars. Peristiwa langit ini akan membuat Bulan dan Mars tampak berdampingan dalam pandangan dari Bumi, dengan Mars yang berada sejauh 4°46' di utara Bulan.

Dari Indonesia, pasangan kosmis ini bisa diamati mulai pukul 20:40 waktu setempat daerahmu, ketika keduanya sudah cukup tinggi di atas cakrawala timur. Mereka kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 02:00 dini hari, yakni setinggi 73° di atas cakrawala selatan. Karena rotasi Bumi, mereka berdua akan terbenam pada pukul 05:45 waktu setempat daerahmu.

Kamu butuh teleskop untuk bisa melihat Mars lebih jelas. Sebab dalam pandangan mata, Mars hanya akan muncul bagai bintang merah terang dengan magnitudo -2,2 di dekat Bulan yang bersinar dalam magnitudo -12,4. Keduanya bertengger di depan rasi bintang Kaprikornus.

6 Juli 2018 : Bumi di Titik Aphelion


Bumi di Titik Aphelion

Apa itu aphelion? Dalam astronomi, aphelion adalah istilah untuk menyebut jarak terjauh yang dicapai Bumi dalam orbit elipsnya mengelilingi Matahari. Aphelion akan dicapai Bumi pada tanggal 6 Juli 2018 pukul 23:48 WIB, di mana planet kita akan berada pada jarak sejauh 1,02 AU (1 AU = 150 juta kilometer).

Jarak Bumi dari Matahari bervariasi sekitar 3% sepanjang tahun karena orbitnya yang elips ini. Namun dalam praktiknya, variasi ini tidak berdampak signifikan. Secara teknis, aphelion membuat Matahari muncul lebih kecil di langit, Bumi juga akan menerima radiasi paling sedikit darinya. Namun, perbedaan 3% jarak Bumi dari Matahari tidak akan membuat perbedaan di hari aphelion dengan hari lainnya.

Perubahan tahunan dalam cuaca kita, misalnya antara musim panas dan musim dingin, disebabkan sepenuhnya oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan oleh perubahan jaraknya dari Matahari.

8 Juli 2018 : Hujan Meteor Kaprikornid


Hujan Meteor Kaprikornid

Termasuk dalam hujan meteor minor, yakni hujan meteor dengan intensitas kecil, Kaprikornid akan mencapai puncaknya pada 8 Juli 2018. Sesuai namanya, hujan meteor ini akan bertitik radian di rasi bintang Kaprikornus.

Di langit Indonesia, titik radian tersebut akan berada pada ketinggian 70° di atas ufuk tenggara pada tengah malam. Itulah saat terbaik untuk mengamati hujan meteor ini. Semakin tinggi posisi titik radiannya, semakin banyak meteor yang berpotensi diamati.

Akan ada sekitar 5 meteor per jam pada puncaknya. Kamu tidak butuh teleskop untuk mengamatinya, hanya perlu pandangan langit yang luas, lokasi minim polusi cahaya, dan cuaca cerah. Pakai juga jaket dan seduh minuman hangat untuk mengamati di tengah dinginnya malam.

13 Juli 2018 : Gerhana Matahari Parsial


Gerhana Matahari Parsial

Pada pagi hari tanggal 13 Juli 2018, sebagian wajah Matahari akan digerhanai oleh Bulan dalam peristiwa gerhana Matahari parsial. Sayangnya, Indonesia tidak kebagian.

Hanya Antartika (bisa melihat 23% wajah Matahari tertutup Bulan), sebagian kecil wilayah selatan Australia (6%) dan Selandia Baru (5%) yang berkesempatan melihat peristiwa ini. Lokasi pertama yang bisa melihat gerhana ini akan dimulai pukul 08:48 WIB, puncaknya pukul 10:10 WIB, dan lokasi terakhir yang bisa melihat gerhana ini akan berakhir pukul 11:13 WIB.

16 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Venus


Konjungsi Bulan dengan Planet Venus

Setelah menghalangi Matahari dalam peristiwa gerhana Matahari parsial, tiga hari setelahnya Bulan akan bertemu dengan Venus dalam peristiwa konjungsi. Bulan yang baru berusia tiga hari itu akan berada sejauh 1°37' di arah utara Venus.

Pasangan kosmis ini bisa diamati di langit barat segera setelah Matahari terbenam hingga pengaturan 2 jam 58 menit setelahnya. Gunakan teleskop untuk melihat Venus yang bersinar dengan magnitudo --4,1 dan Bulan dengan magnitudo -10,5. Keduanya berada di depan rasi bintang Leo.

21 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter


Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter

Puas berkencan dengan Venus, Bulan akan menemani Jupiter di langit Bumi. Pada konjungsi ini, Bulan sudah memasuki fase separuh awal, ia akan berada sejauh 4°26' dari planet Jupiter.

Dari Indonesia, pasangan ini akan terlihat di langit malam, dengan pengamatan bisa dilakukan mulai pukul 18:30 waktu setempat daerahmu, saat kedua benda langit ini berada di langit atas kepala. Mereka akan terus bisa diamati sampai sekitar tengah malam, saat keduanya terbenam di ufuk barat.

Bulan akan bersinar dengan magnitudo -12,1 dan Jupiter dengan magnitudo -2,2. Gunakan teleskop untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas lengkap dengan garis-garis atmosfernya dan bulan-bulan terbesarnya, Io, Europa, Kalisto, dan Ganimede.

25 Juli 2018 : Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus


Konjungsi Bulan dengan Planet Saturnus

Pertemuan Bulan dengan planet-planet tata surya masih berlanjut. Dan di tanggal ini giliran Saturnus, sang planet bercincin, yang akan muncul seolah berdekatan dengan Bulan, padahal jauh seperti kamu dan dia~ Hehehe~

Peristiwa konjungsi ini akan membuat Bulan dan Saturnus berada sejauh 2° satu sama lain. Kita bisa melihat konjungsi ini segera setelah Matahari terbenam, mereka akan berada di langit timur. Pasangan ini bisa terus diamati sampai sekitar pukul 03:35 waktu setempat daerahmu, saat keduanya terbenam di barat.

Lagi-lagi, gunakan teleskop untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas lengkap dengan cincinnya. Sebab dalam padangan mata, Saturnus yang bersinar dengan magnitudo 0,0 ini hanya akan tampak seperti bintang kuning terang di dekat Bulan yang bersinar dengan magnitudo -12,4.

27 Juli 2018 : Oposisi Mars


Oposisi Mars

Inilah saat terbaik untuk mengamati planet Mars!

Dalam astronomi, oposisi adalah peristiwa ketika planet luar berada di jarak terdekat dengan Bumi karena konfigurasinya Matahari-Bumi-planet berada dalam satu garis lurus di bidang tata surya. Dengan kata lain, Mars akan mencapai jarak terdekat dengan Bumi di tahun ini pada tanggal 27 Juli 2018.

Pada oposisi ini, Mars akan terletak pada jarak 0,39 AU dari Bumi, sehingga ia akan muncul selebar 24,3 detik busur di langit Bumi dan bersinar pada magnitudo -2,8. Ini merupakan jarak terdekat antara Bumi-Mars dalam 15 tahun terakhir, lho.

Menariknya, oposisi Mars akan ditemani oleh Bulan, sehingga kita bisa melihatnya seperti ini dari permukaan Bumi:

Namun, jangan berharap Mars akan muncul besar dalam pandangan mata. Kamu masih perlu teleskop untuk bisa melihatnya lebih jelas. Dan karena berada di titik oposisi, Mars akan muncul sepanjang malam dari Matahari terbenam hingga Matahari terbit kembali.

28 Juli 2018 : Gerhana Bulan Total


Gerhana Bulan Total

Dari seluruh peristiwa langit yang akan terjadi di bulan Juli 2018, mungkin inilah yang paling ditunggu-tunggu sejak lama: gerhana Bulan total!

Indonesia cukup beruntung karena berada di sisi malam Bumi saat gerhana ini terjadi, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengamatinya.

Gerhana Bulan total ini bisa diamati mulai pukul 00:15 WIB, ketika Bulan memasuki bayangan penumbra Bumi. Gerhana total akan dimulai pukul 02:30 WIB, ketika Bulan sepenuhnya sudah memasuki bayangan umbra Bumi. Selanjutnya, puncak gerhana akan terjadi pukul 03:22 WIB dan akan berakhir pukul 04:13 WIB.

Peristiwa ini aman untuk diamati dengan mata telanjang, kamu tidak perlu filter gerhana untuk mengamatinya. Bila punya teleskop, gunakanlah, pengamatan melalui teleskop akan jauh lebih menarik karena bisa melihat detail Bulan saat detik-detik gerhana terjadi.

29 Juli 2018 : Hujan Meteor Delta Akuarid


Hujan Meteor Delta Akuarid

Delta Akuarid akan menutup rangkaian peristiwa langit untuk Juli 2018 ini. Ia merupakan hujan meteor yang memiliki titik radian di rasi bintang Akuarius, dekat bintang Delta Akuarii. Terjadi mulai 15 Juli sampai 20 Agustus, hujan meteor ini memuncak tiap tanggal 29 Juli.

Pada puncaknya, kita bisa mengamati 20 meteor per jam, yang mana meteor-meteor ini berasal dari debris yang ditinggalkan oleh komet 96P/Machholz. Pengamatan bisa dilakukan mulai tengah malam sampai menjelang Matahari terbit. Wajib diamati dengan mata telanjang dan pastikan cuaca cerah.

Nah, itulah Jadwal Fenomena Langit Juli 2018. Keep looking up and clear skies!