Sejarah Akihabara dan Perkembangannya - Info Namina

Saturday, October 6, 2018

Sejarah Akihabara dan Perkembangannya

Akihabara (秋葉原) atau Pusat Elektronik Akihabara (秋葉原電気街 Akihabara Denki Gai) adalah kawasan perbelanjaan yang terletak di sekitar Stasiun Akihabara, Tokyo, Jepang. Dengan kereta api, dari Stasiun Tokyo ke Akihabara memakan waktu kurang dari lima menit.

Sejarah Akihabara dan Perkembangannya

Siapapun yang pernah ke Tokyo, pasti tidak lupa untuk mampir ke tempat ini, Akihabara. Kota ini termasuk kota tertua di Jepang. Di akhir tahun 1869, daerah Akihabara menderita kerugian besar akibat kebakaran hebat. Kaisar Meiji memerintahkan pembangunan kuil yang dipercaya bisa memadamkan api (chinkasha).

Sejarah Akihabara


Di zaman Edo, penduduk setempat salah mengerti dan mengira di kuil tersebut dipuja dewa Akiha Daigon-gen yang dipercaya dapat memadamkan api. Selanjutnya, orang menyebut kuil dan lokasi di sekitarnya sebagai Akiba-sama atau Akiba-san (Tuan Akiba).

Tanah kosong (bahasa Jepang: hara) di sekeliling kuil dibebaskan dari bangunan agar api tidak menjalar bila terjadi kebakaran. Nama lokasi ini kemudian berubah menjadi Akihabara (tanah kosong di sekeliling Akiba-sama), dan kuil Chinkasha ikut dikenal orang sebagai kuil Akiba. Setelah jalur kereta api melewati tempat ini pada tahun 1888, kuil Chinkasha dipindahkan dan namanya secara resmi diganti menjadi Akiba-jinja (Kuil Akiba).

Sejarah Akihabara bagi negeri Jepang sendiri termasuk besar. Saat perang dunia ke II , kota inilah saksi keganasan dari bom Amerika, selain kedua kota yang memang mutlak terkena bom atom saat itu, Hiroshima dan Nagasaki. Setelah bom atom itu meluluh lantakkan Jepang dan menghancurkan perekonomian negara Jepang, Akihabara menjadi pelopor kemajuan perekonomian negeri sakura tersebut.

Bom memang di lepaskan ke kedua kota penting Jepang saat itu, Hiroshima dan Nagasaki sebagai kekuatan militer dan jantung pertahanan Jepang. Demikian akihabara, sebagian kota ini juga terkena pembagian jatah bom juga. Dan setelah Jepang menyerah pada sekutu, kota ini menjadi tujuan utama bagi para pengais yen.

Para pedagang gelap mulai menuju ke bangunan yang luput dari amukan atom, letaknya di jantung Akihabara (konon bangunan ini yang tersisa dari sekian bangunan yang hancur). Para pedagang mulai membuka bisnis gelap maupun resmi di Akihabara, barang yang dijual pada saat itu adalah barang elektronik yang yang tersisa pasca perang dunia.

Perkembangan Akibahara


Berikut beberapa perkembangan Akihabara dari tahun ke tahun yang kami rangkum dari berbagai sumber :

  • 1869: Kawasan ini menderita kerugian besar akibat kebakaran hebat. Tanah seluas kira-kira 30.000 meter persegi dibebaskan dari perumahan penduduk agar api tidak menjalar ke pusat kota Tokyo bila terjadi lagi kebakaran besar.
  • 1870: Di atas tanah kosong tersebut, Kaisar Meiji memerintahkan pembangunan kuil yang dipercaya bisa memadamkan api (鎮火社, chinkasha). Pada zaman Edo, penduduk setempat salah mengerti, dan mengira di kuil tersebut dipuja dewa Akiha Daigon-gen yang menurut orang Jepang Tengah dan Timur dipercaya dapat memadamkan api. Selanjutnya, orang menyebut kuil dan lokasi di sekitarnya sebagai Akiba-sama atau Akiba-san (Tuan Akiba). Tanah kosong (bahasa Jepang: hara) di sekeliling kuil lalu dibebaskan dari bangunan agar api tidak menjalar bila terjadi kebakaran. Nama lokasi ini kemudian berubah menjadi Akihabara (tanah kosong di sekeliling Akiba-sama), dan kuil Chinkasha ikut dikenal orang sebagai kuil Akiba.
  • 1888: Kuil Chinkasha dipindahkan ke Matsugaya, dekat Asakusa, dan namanya secara resmi diganti menjadi Akiba-jinja (Kuil Akiba).
  • 1890: Jalur kereta api yang sekarang disebut Jalur Utama Tōhoku diperluas dari Ueno ke Akihabara. Sebelumnya belum ada stasiun kereta api di Akihabara. Di selatan Akihabara adalah dok kargo, tempat dikapalkannya barang-barang dari luar negeri.
  • Dari zaman Meiji hingga zaman Showa, transportasi ke Akihabara makin mudah setelah jaringan kereta rel listrik semakin meluas. Di kawasan Akihabara dan sekelilingnya juga makin ramai dengan toko-toko. Kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai pasar buah dan sayuran (seika ichiba).
  • 1925: Jalur Akihabara-Stasiun Tokyo dibuka setelah Jalur Tohoku diperluas hingga ke Tokyo.
  • 1930: Stasiun Kereta Bawah Tanah Manseibashi dibuka, namun berhenti beroperasi pada bulan November 1931.
  • 1935: Di Akihabara dibuka secara resmi pasar buah dan sayur Kanda Seika Ichiba.
  • 1936: Lokasi bekas Stasiun Manseibashi ditutup. Penggemar kereta api mencapai puncaknya di Jepang. Di lokasi ini nantinya didirikan Museum Transportasi (sudah tutup, sekarang tidak ada lagi). Kawasan ini berubah menjadi lokasi pusat belanja elektronik nomor satu.
  • Seusai Perang Dunia II (1945-1955), di Kanda muncul pasar gelap di sekitar sekolah manufaktur listrik I (sekarang Universitas Tokyo Denki). Di pasar gelap yang menempati pinggiran rel kereta api Jalur Utama Sōbu bermunculan toko-toko yang menjual tabung vakum dan suku cadang radio dan elektronik kepada pelajar. Toko-toko elektronik seperti ini di Jepang disebut toko musen atau toko radio karena mereka awalnya hanya menjual radio.
  • 1960-an: Jepang mencapai kemajuan tinggi dalam bidang elektronika. Pesaing Akihabara dibangun di Nipponbashi, Osaka. Nipponbashi tidak jauh berbeda dari Akihabara, sama-sama menjual barang-barang elektronik konsumen seperti televisi, lemari es, dan mesin cuci.
  • 1980-an: Meluasnya komputer pribadi di rumah-rumah yang dikenal di Jepang sebagai (“famikon”) membuat toko-toko di Akihabara mulai menjual permainan video, dan toko-toko berantai yang berafiliasi dengan produsen permainan video mulai bermunculan.
  • 1989: Pasar Buah dan Sayur Kanda dipindah ke Ōta-ku, di selatan Tokyo.
  • 1990-an: Pengecer elektronik besar seperti Yamada Denki dan Kojima melakukan ekspansi ke pinggiran kota, mendekati rumah-rumah tinggal konsumen. Sebagai akibatnya, penjualan barang-barang elektronik konsumen merosot secara tajam. Namun sebagai penggantinya, penjualan barang-barang komputer meningkat.
  • 1991: Sofmap muncul sebagai pemain baru di bidang eceran suku cadang komputer dan perangkat lunak bekas/baru. Toko-toko Sofmap menjual sistem komputer yang nantinya sangat populer di Jepang, seperti NEC (PC-8801 dan 9801), Sharp (X68000), dan Fujitsu (FM-Towns). Toko-toko berantai Sofmap lalu mulai bermunculan di sejumlah lokasi di Akihabara.
  • 1994: Komputer pribadi dengan sistem operasi Microsoft Windows menjadi barang laris, dan bermunculan toko-toko yang menjual komputer pribadi beserta peralatan dan aksesorinya.
  • Demam anime berlangsung pada tahun 1990-an bersamaan dengan makin populernya permainan video. Penggemar sejati manga, anime, dan permainan video melahirkan generasi baru yang disebut otaku, dan mereka berbelanja di Akihabara.
  • Sejak tahun 2000-an, angka penjualan komputer bermerek terus menurun, dan toko penjual komputer banyak yang tutup. Toko barang-barang anime menggantikan toko-toko komputer yang tutup, dan budaya otaku makin dikenal publik Jepang.
  • 2005: Kawasan ini menjadi target pembangunan kembali dan modernisasi, terutama daerah sekitar stasiun.
  • 2006: Di kawasan ini muncul Idol Group AKB48.
  • 2007: Budaya “Akiba” diperkenalkan dalam tayangan nasional Kouhaku Uta Gassen di NHK oleh idola otaku Shoko Nakagawa. Melalui segmen Medley Spesial: Budaya Mutakhir Kebanggaan Jepang ikut diperkenalkan grup idola Akiba-kei, AKB48 sebagai produk budaya Akihabara.
  • 8 Juni 2008: Pembantaian di Akihabara terjadi pada hari Minggu yang ramai di kawasan pejalan kaki Chūōdōri. Seorang laki-laki menabrak orang di keramaian dengan truk sebelum menikam orang-orang yang diburunya dengan pisau belati, 7 korban tewas, 12 luka.
  • 23 Januari 2011: Dua setengah tahun berlalu setelah peristiwa pembantaian. Kawasan khusus pejalan kaki Chūōdōri dibuka kembali, ditandai dengan upacara peringatan dan peraturan-peraturan baru.

Nah itulah tadi sejarah Akihabara dan perkembangannya dari tahun ke tahun. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda.
Disqus comments